Berulang
kali, kuhela nafas, diikuti degup jiwa yang mendekap kesyahduan senja. Ya,
senja Alexandria akan selalu indah. Matahari terbenan sangat cantik mewarnai
ufuk langit dengan jingga keemasan. Sejauh mata memandang, terlihat laut
mediterania yang menghampar dihadapan.
Sayup – sayup terdengar obrolan orang Mesir yang ekspresif. Aku akan
mengenang ini sebuah déjà vu indah yang akan berulang dalam hidup. Dulu sekali,
aku memimpikan hal ini: menatap sunset Alexandria yang menawan mata, ditemani
bidadari penyejuk jiwa. Dan semua mimpi dulu kutuliskan di dalam dream book
milikku, kini jadi nyata semua. Semuanya jadi lebih indah daripada yang kukira.
Ditengah
debur dan gulungan ombak mesra laut mediterania, aku menatap wanita
disampingku, yang sedari tadi bersandar manja dibahuku. Ku tatap wajahnya yang
ayu. Ah kedua bola matanya itu, memikat.berkulit putih bak mutiara. Hidung
mancungnya. Bibir manisnya yang menyunggingkan senyuman untukku. Ujung jilbab
besarnya sesekali menari mengikuti irama angin.
Tatapan
mata kami bertemu. Ah, istriku ini jadi wanita terindah yang menghiasi hidupku.
Tanyakanlah kepada angin saat ia berhembus, biar ia bawa cintaku tinggi- tinggi
kelangit dunia jauh keangkasa, kesidratal muntaha, agar para penduduk langit
cemburu bahwa dua insan yang dipertemukan
dengan kecintaan penuh kepada Nya. Pastilah mereka memohon – mohon
kepada Allah agar diberikan hal serupa, namun aku tak tau lagi jawaban Allah
untuk mereka.
Kuhela
nafasku, terhirup wangi menyejukkan bidadariku di sampingku ini. Berulang kali
kugumamkan syukur. Oh Tuhan, anugrah ini begitu indah. Inilah hadiah kesabaran
yang terlaku.
Ku
gengam tangannya, teringat pula saat tangan kami bersentuhan pertama kalinya,
setelah ikrar sacral ijab qabul, yang menyatukan hidupku dan hidupnya menjadi
satu kehidupan yang berjalin.
Tatapannya
begitu manja, menatap mataku sedari tadi. Jauh didalam bola matanya keteduhan cintanya kepadaku, cinta yang
memangAllah menghendaki untuk bersua denganku.
Jika
Allah berkehendak, kalimat itu yang berulang kali, dahulu, kami sebutkan dalam
bincang kami saat belum bersama. Namun
siapa mengira ini akan jadi nyata? Aku – mungkin sekali juga dia, istriku-
berulang kali kami mengutarakan mimpi kami masing- masing, seakan hendk
menyatukannya, namun kami belum bias mengikatnya saat itu. Harap kami bermula
dari kalimat sakti itu- jika Allah berkehendak. Terlabuhkan cintaku dan
cintanya kepada Allah. Dalam istikharah kami masing – masing, akhirnya dia
pertemukan kami. Memang Allah yang menghendakinya. Jika allah sudah bertitah,
maka apa pun akan jadi mungkin, semsta akan berduyun- duyun mengikuti amar-
Nya.
Tanganku
merengkuh bahunya, aku hanya ingin agar dia mendekat, dan tak ingin ia jauh-
jauh. Aku tak ingin kejadian setahun sebelum kami bersatu terulang. Saat itu,
kami terpisahkan beberapa masa karena kesibukan masing- masing. Aku , karena
memang amanah yang memaksaku untuk bepergian. Dia , karena memang saat itu dia
tak kemana- mana. Berulang kali ia merajuk, namun berulang kali kukatakan,
“masa depan kita akan jauh lebih indah dari yang kita pikirkan, bersabarlah.”
Dan
memang, keindahan ini takkan pernah bias tergambarkan dengan kata- kata paling
menawan sekalipun. Bidadariku ini tersenyum manis tanpa henti. Aku luluh jika
ia sudah seperti ini.
Berdua
disini, dibawah langit Alexandria, kami membangun istana cinta kami yang lain.
Istana mimpi kami berdua. Tak ada lagi ‘’mimpiku’’, “mimpimu’’, namun “mimpi
kita”. Angin laut berhembus lagi. Gulungan ombak menderu- deru. Langit makin
senja. Matahari makin pergi jauh, menuju peraduanya. Tak terasa, air mataku
menetes. Inilah air mata cinta ilahiyyah yang sempurna, yang menetes penuh
kesyukuran. Kulabuhkan bibirku didahinya. Mengecupnya dengan penuh kasih. Jauh
didasar hatiku, kehadiran wanita shalihah ini sudah memenuhi relung- relung
hidupku yang awalnya berongga ia isi dengan cinta, perhatian, dan kasih. Dia,
yang membuatku jadi manusia seutuhnya.
Setelah
kecup itu, kupeluk wanita ini erat- erat. Aku takkan biarkan ia pergi.
Kemanapun aku pergi, dia harus selalu ada disampingku. Dia terlalu indah untuk
kusia-siakan. Kontelasi semesta takkan mampu menggan tikan ia. Berulang kali aku membisik dekat telinganya,
dengan suara yang nyaris hilang . “Aku mencintaimu sayang. Aku mencintaimu”.
Hari
ini adalah salah satu hari dimana aku berazam untuk membuatnya menjadi wanita
shalihah yang akan dicintai penduduk langit. Akulah yang akan menggengam tangannya
masuk kesurga-Nya kelak, kemudian kami melantunkan puja- puji atas Allah,
dengan alunan yang sama. Nada yang menggetarkan hati siappaun yang
mendengarnya, nada yang akan mengetuk kekosongan jiwa siapapun yang tengah
kering. Biarlah senja di tanah Kinanah ini jadi saksi, bahwa wanita dipelukku
ini adalah wanita yang ingin sekali ku jadikan istri mulia dimata- Nya. Yaa
Rabb… Air mataku menetes lagi, membuat becak basah di jilbab kelabunya. []
by azzraq.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar