Rabu, 20 Maret 2013

PROLOG NOVEL "JIKA ALLAH BERKEHENDAK"


Berulang kali, kuhela nafas, diikuti degup jiwa yang mendekap kesyahduan senja. Ya, senja Alexandria akan selalu indah. Matahari terbenan sangat cantik mewarnai ufuk langit dengan jingga keemasan. Sejauh mata memandang, terlihat laut mediterania yang menghampar dihadapan.  Sayup – sayup terdengar obrolan orang Mesir yang ekspresif. Aku akan mengenang ini sebuah déjà vu indah yang akan berulang dalam hidup. Dulu sekali, aku memimpikan hal ini: menatap sunset Alexandria yang menawan mata, ditemani bidadari penyejuk jiwa. Dan semua mimpi dulu kutuliskan di dalam dream book milikku, kini jadi nyata semua. Semuanya jadi lebih indah daripada yang kukira.
Ditengah debur dan gulungan ombak mesra laut mediterania, aku menatap wanita disampingku, yang sedari tadi bersandar manja dibahuku. Ku tatap wajahnya yang ayu. Ah kedua bola matanya itu, memikat.berkulit putih bak mutiara. Hidung mancungnya. Bibir manisnya yang menyunggingkan senyuman untukku. Ujung jilbab besarnya sesekali menari mengikuti irama angin.
Tatapan mata kami bertemu. Ah, istriku ini jadi wanita terindah yang menghiasi hidupku. Tanyakanlah kepada angin saat ia berhembus, biar ia bawa cintaku tinggi- tinggi kelangit dunia jauh keangkasa, kesidratal muntaha, agar para penduduk langit cemburu bahwa dua insan yang dipertemukan  dengan kecintaan penuh kepada Nya. Pastilah mereka memohon – mohon kepada Allah agar diberikan hal serupa, namun aku tak tau lagi jawaban Allah untuk mereka.
Kuhela nafasku, terhirup wangi menyejukkan bidadariku di sampingku ini. Berulang kali kugumamkan syukur. Oh Tuhan, anugrah ini begitu indah. Inilah hadiah kesabaran yang terlaku.
Ku gengam tangannya, teringat pula saat tangan kami bersentuhan pertama kalinya, setelah ikrar sacral ijab qabul, yang menyatukan hidupku dan hidupnya menjadi satu kehidupan yang berjalin.
Tatapannya begitu manja, menatap mataku sedari tadi. Jauh didalam bola matanya  keteduhan cintanya kepadaku, cinta yang memangAllah menghendaki untuk bersua denganku.
Jika Allah berkehendak, kalimat itu yang berulang kali, dahulu, kami sebutkan dalam bincang kami  saat belum bersama. Namun siapa mengira ini akan jadi nyata? Aku – mungkin sekali juga dia, istriku- berulang kali kami mengutarakan mimpi kami masing- masing, seakan hendk menyatukannya, namun kami belum bias mengikatnya saat itu. Harap kami bermula dari kalimat sakti itu- jika Allah berkehendak. Terlabuhkan cintaku dan cintanya kepada Allah. Dalam istikharah kami masing – masing, akhirnya dia pertemukan kami. Memang Allah yang menghendakinya. Jika allah sudah bertitah, maka apa pun akan jadi mungkin, semsta akan berduyun- duyun mengikuti amar- Nya.
Tanganku merengkuh bahunya, aku hanya ingin agar dia mendekat, dan tak ingin ia jauh- jauh. Aku tak ingin kejadian setahun sebelum kami bersatu terulang. Saat itu, kami terpisahkan beberapa masa karena kesibukan masing- masing. Aku , karena memang amanah yang memaksaku untuk bepergian. Dia , karena memang saat itu dia tak kemana- mana. Berulang kali ia merajuk, namun berulang kali kukatakan, “masa depan kita akan jauh lebih indah dari yang kita pikirkan, bersabarlah.”
Dan memang, keindahan ini takkan pernah bias tergambarkan dengan kata- kata paling menawan sekalipun. Bidadariku ini tersenyum manis tanpa henti. Aku luluh jika ia sudah seperti ini.
Berdua disini, dibawah langit Alexandria, kami membangun istana cinta kami yang lain. Istana mimpi kami berdua. Tak ada lagi ‘’mimpiku’’, “mimpimu’’, namun “mimpi kita”. Angin laut berhembus lagi. Gulungan ombak menderu- deru. Langit makin senja. Matahari makin pergi jauh, menuju peraduanya. Tak terasa, air mataku menetes. Inilah air mata cinta ilahiyyah yang sempurna, yang menetes penuh kesyukuran. Kulabuhkan bibirku didahinya. Mengecupnya dengan penuh kasih. Jauh didasar hatiku, kehadiran wanita shalihah ini sudah memenuhi relung- relung hidupku yang awalnya berongga ia isi dengan cinta, perhatian, dan kasih. Dia, yang membuatku jadi manusia seutuhnya.
Setelah kecup itu, kupeluk wanita ini erat- erat. Aku takkan biarkan ia pergi. Kemanapun aku pergi, dia harus selalu ada disampingku. Dia terlalu indah untuk kusia-siakan. Kontelasi semesta takkan mampu menggan tikan ia.  Berulang kali aku membisik dekat telinganya, dengan suara yang nyaris hilang . “Aku mencintaimu sayang. Aku mencintaimu”.
Hari ini adalah salah satu hari dimana aku berazam untuk membuatnya menjadi wanita shalihah yang akan dicintai penduduk langit. Akulah yang akan menggengam tangannya masuk kesurga-Nya kelak, kemudian kami melantunkan puja- puji atas Allah, dengan alunan yang sama. Nada yang menggetarkan hati siappaun yang mendengarnya, nada yang akan mengetuk kekosongan jiwa siapapun yang tengah kering. Biarlah senja di tanah Kinanah ini jadi saksi, bahwa wanita dipelukku ini adalah wanita yang ingin sekali ku jadikan istri mulia dimata- Nya. Yaa Rabb… Air mataku menetes lagi, membuat becak basah di jilbab kelabunya. []

by azzraq.
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kau katakan semakin indah memakai merah,^_^

kau katakan semakin indah memakai merah,^_^

Blogger templates

assalamu'alaikum,,,,,,kimitachi. ahlanwasahlan,^_^ in my blog "pena cintaku"

Pages

Pages - Menu

About Me Moena Banafsaj

Search Me