Sabtu, 01 Juni 2013

KONSTELASI HIDUPKU







Tarian langit mengajarkanku tentang alunan musik kehidupan, terpadu dalam buaian mimpi dan angan- angan, lekak-lekuk tarian bermetamorfosa menjadi lingkar hidup yang mengupas problematika . Susah, senang, sedih, gembira. Semua terbungkus menjadi satu dalam koreografi yang diciptakan Tuhan.
 Takdir, itu takdirmu dan ini takdirku.
            Semua mempunyai takdir masing – masing. 

Tak guna melengkingkan rintihan tarian masa kelam. Karena sang pencipta menyiapkan tarian indah untuk didendangkan dimasa mendatang.

Khayalku , mimpiku , cita-citaku, harapanku. Semua terpadu dalam konstelasiku. Atas izin Tuhan semua dalam genggamku. Atas titahNya acuhkan paradigma. Sekalipun dalam roda konspirasi dunia.
Aku hanya seorang anak jalanan  yang mempunyai impian, takdirku menembus arus deras dan kejamnya Ibukota. Ya, inilah takdirku . Seolah menjadi benalu yang ditengah- tengah deretan pohon-pohon  jati yang kokoh dengan terjangan angin yang kencang. Sebagian orang  menganggap rendah para musisi jalanan, karena hanya bisa mengais uang dari hasil lantunan lagu yang didendangkan. Paradigma pengamen yang hanya bisa melantunkan lagu tanpa mengerti seni kalbu dalam musik. Dan aku hanyalah orang yang menjunjung tinggi kreatifitas seni tanpa harus ada timbal balik. Masa bodoh dengan ocehan manusia- manusia itu, bagiku musik adalah hidupku.  Bukan penghidupanku.
Dan disinilah aku bermula. Menjadi musisi jalanan yang memberikan warna musik kehidupan.
                                                                        ***

Aku bernama Azka berumur 12 tahun. Sejak kecil aku hanya tinggal bersama kakak laki-lakiku. kakakku hanyalah seorang pekerja serabutan yang tak jelas. Aku dan kakakku mempunyai impian yang sama. Yakni dengan lincah memainkan senar biola. Alat musik  itu penuh keanggunan dan wibawa jika digesekkan. Dawai dawai alunan indah terpatri menjadi alunan syahdu yang menggetarkan jiwa. Instrumennya terpadu dalam gesekan senar indah yang diciptakan. Dawai biola mendadak hidup, mengalun jernih, sesekali menghentak rancak. Violinis yang memainkannya mengolah nada demi nada, menyuguhkan permainan apik dan harmonis.
Ah..  Sungguh indah tak bisa terungkapkan bukan?

Tepat dimana gubuk kecil kami berdiri. Disisi kanan seberang jalan. Terdapat sebuah sekolah musik yang berdiri megah bak singgasana para seniman kaya. Setiap hari mobil- mobil mewah terlihat singgah disana. Sudah pasti jelas anak- anak orang kayalah yang belajar  musik disana. Aku iri melihatnya. Hanya bisa menatap mereka yang turun dari mobil, berpakaian rapi dan bagus serta membawa alat musik yang mereka geluti. Sedangkan aku?
Aku hanyalah musisi jalanan yang mengekspresikan lagu tanpa meminta imbalan. Hobiku melantunkan lagu dibis-bis kota dan kereta sebagai keceriaan hidup. Andai aku bisa seperti mereka. Andai mereka tau. Semoga Tuhan mendengar pintaku. Semoga . Semoga .Semoga.
                                                            ***

 Minggu hari yang mendung. Tepat jam satu siang aku bergegas lari keluar rumah, membawa buku kecil dan balpoint yang begelantungan dileherku. Pagi ini jadwal anak- anak orang kaya itu belajar biola. Aku yang mempunyai impian bisa menggesekkan dengan lincah dawai dawai itu, hanya bisa mengintip disela- sela jendela kaca saat anak- anak itu belajar memainkannya. Sesekali penjelasan sang guru musik dipapan tulis aku salin dikertas kecil yang ada ditanganku. Dan kemudian dirumah , aku belajar bersama kakakku tentang musik dari majalah- majalah dan Koran yang kami kumpulkan. Mungkin aku tak mengerti hanya dengan menyalin tanpa mengaplikasikan. Tapi setidaknya aku bisa mendengar jelas alunan dawai- dawai merasuk hati hingga menggebu – gebu membuncahkan semangatku untuk dapat memainkan alat musik yang mempunyai kekuatan magic ini. Setiap minggunya aku selalu mengintip pelajaran mereka. Tak pernah absen kulakukan.


 Ketika itu aku terbawa alunan syahdunya instrumen getaran dawai, hingga tak menyadari bahwa Tuhan telah menurunkan rahmatNya kebumi. Bajuku basah kuyup, derasnya hujan bersatu padu dengan tetesan air di sela- sela dedaunan. Terlihat daun tua berjatuhan rontok mengikuti takdir. Ranting pohon yang bergoyang ditiup derasnya angin. Kicauan burung sesekali terdengar bak pertanda mereka kedinginan oleh sayap- sayap basah. Lambaian rumput pun ikut berdendang seakan menikmati irama musik alam dipadu dengan instrument biola  yang terdengar didalam singgasana megah itu.
Hari sudah senja, matahari tak nampak lagi. Bahkan, sore itu rinai gerimis sedikit membasahi langit. senja itu, kesyahduan menyergap. Tiba- tiba aku tersentak kaget. Salah seorang guru musik menghampiriku. Nampaknya gerak- gerikku selama ini telah disadari olehnya.
“Kamu menyukai musik nak? Hampir setiap kali saya mengajar, kamu selalu hadir dibalik kaca mendengarkan penjelasanku. Bahkan antusiasmu meluap-luap memperhatikanku melebihi anak yang sedang aku ajarkan. Apakah kamu tertarik dengan biola?” Tanya ibu guru itu.

Aku hanya bisa menjawab. “Ya aku cinta musik. Aku cinta biola. Dan aku punya mimpi besar.”
Ibu guru itu  tersenyum mendengar jawabanku. Dan berkata, “ datanglah kesekolah musik ini sesukamu nak, ikutlah belajar bersama teman- teman yang lain, tak usah takut akan bayaran. Karena ini terbuka untukmu. Dan ambilah biola ini untukmu. Berjuanglah”.

Sungguh ini sebuah deja’vu kehidupan. Aku tak pernah membayangkan bisa memiliki biola seindah ini. Badan biola terdiri atas dua papan suara yang melengkung yang disatukan oleh kayu yang disebut iga biola yang dilem, Iga biola biasa terdiri dari bagian atas, keempat sudut, bagian bawah, dan garis tipis, Dipandang baik dari depan maupun dari belakang, badan biola menyerupai bentuk jam pasir. Leher biola biasanya terbuat dari kayu mapel yang setipe dengan bagian belakang dan samping badan biola. Jembatan biola dipahat dengan hati-hati dari kayu mapel dan memiliki beberapa kegunaan, lengkungan atasnya menahan senar pada ketinggian tertentu dari papan jari dalam bentuk melengkung supaya dapat digesek sendiri-sendiri (atau bersamaan) dan menghantarkan getaran suara dari senar ke badan biola. Bagian Ekor biola adalah tempat menambatkan ujung bawah senar yang diselipkan ke dalam masing-masing dari empat lubangnya. Busur biola terdiri dari sebatang kayu dan berhelai-helai rambut kuda yang dipasang dari satu ujung tongkat ke ujung yang lain. Senar dibuat dari usus domba, direntangkan, dikeringkan, lalu dipelintir. Sungguh terlihat rumit meciptakannya dan fantastic. Ketika dimainkan dengan standar dan kualitas yang benar, musik akan tersaji sebagai hidangan yang adiluhung sekaligus menyegarkan.

Inilah awal perjuanganku menjemput mimpi-mimpiku. Yang bukan lagi hanya harapan kosong.
Berlarian menembus angin dengan perasaan haru biru, senang, bahagia, semua rasa terkonstelasi sendiri dalam rinai hidupku saat ini. Bajuku yang basah kuyup, tak aku hiraukan, rambutku yang ikal menjadi lepek tak berbentuk. Celana pendekku yang sobek dan tak memakai alas kaki tak ku pedulikan. Aku bak seorang gembel yang kelaparan berminggu –minngu, yang seolah baru saja menemukan makanan terlezat yang pernah dilahap seumur hidupnya. Yang ku tau saat ini adalah aku bahagia, aku memiliki biola terindah, dan aku akan menunjukkan biola ini pada kakakku dan bermain bersamanya.

 Amboi…..Impian kami sekarang nyata kawan!

Tiba- tiba saja, didepan gubuk kecilku ramai, bendera kuning kecil itu berkibar- kibar disela pohon jambu di depan gubuk. Tubuhku gemetar, apa yang terjadi, ada apa dengan rumahku yang ramai.
Aku berlari secepat mungkin menerobos orang- orang yang bergerombol. Dan aku menemukan kakakku terbujur kaku, tak berdaya. Kakakku telah dipanggil sang pencipta menemui ayah ibuku.
Menurut penuturan teman kerjanya, kakakku tertimpa bangunan yang roboh. Aku tersungkur  dihadapan pembaringan jasad kakakku.
“Kakak, harusnya kau melihat ini kak. Aku membawa biola yang selama ini kita impikan. Kakak berjanji akan terus belajar musik bersamaku. Ayo kak bangun, bangun kak. Lihatlah. Ada biola ditanganku”. Aku menangis sejadi- jadinya tak bisa membendung air mata.
                                                            ***

Hari- hari ku jalani sendiri. Setiap harinya aku giat berlatih menggesekan biola hingga bersatu padu menjadi irama klasik unik yang indah. Disekolah musik itu aku dibimbing hingga dengan lihai dan lincah menggesekkan senar biola.
Sampai dimana aku beranjak dewasa, karena keahlianku dengan piawai menggesekkan biola, aku mendapatkan beasiswa di Prodi SENDRATASIK(Seni Drama Tari dan Musik).
Jadi teringat perkataan temanku yang menceritakan isi dari novel Pak Cik Andrea Hirata. “Seumur hidup baru kali ini aku menjamah biola. instrumen ini begitu artistik. gelap,berwibawa. seperti ada nyawa dalam rongganya. seperti ada sejarah yang tercatat dalam serat-seratnya. alat ini hanya berhak dipegang orang berjiwa musik berjiwa tinggi seni”

Biola yang ku pegang ini, memiliki sejarah perjalanan hidupku. Mimpiku, cita- citaku, harapanku, dan sebagai bukti cintaku pada kakakku bersatu padu menjadi konstelasi hidupku.
Kalimat sakralku dan kakakku menjadikan langit ketujuh adalah gambaran imajiner untuk tepat yang paling tinggi diujung yang paling tinggi, lapisan langit, gugusan planet, narasi bintang, semua bisa jadi terkonstelasi dalam kepal kami. Begitu pula mimpi- mimpi kami. Dengan harapan, cinta, dan cita- cita besar kami. Semua akan terkonstelasi menjadi gumpalan berlian yang tak bisa ditukarkan dengan apapun.
                                                            ***

Musik bagiku suara yang tercipta karena adanya satu atau sederet bauran frekuensi yang berbeda, yang pada umumnya menumbuh-kembangkan harmoni. Coba merasakan musik yang dihasilkan alam. Seperti suara gesekan dedaunan ditiup angin, gemericik air mengalir, suara ombak, suara tiupan angin kencang, suara gemuruh hujan dan halilintar, dan lain sebagainya. Pernahkan kau merasakan kicauan burung dan suara binatang lainnya menjadi nada-nada indah dalam perjalanan alam yang semakin renta ini. Kalau kita dengarkan secara seksama suara-suara itu bila terjalin akan menjadi sebuah harmoni indah sebagai kidung alam untuk didengarkan, ditelaah, dihayati, dimengerti, lalu disenandungkan anak manusia untuk menghiasi kehidupan.

Aku tak perlu panggung mewah gemerlap, dan buasana seharga jutaan rupiah, untuk mengaspresiasikan kepiawaian ku dalam bermain musik. Membagikan keceriaan hidupku dengan dawai- dawaiku. Kalian cukup mencariku di kereta, bis – bis dan angkutan umum lainnya. Ku curahkan semua mimpi, cita , cinta dan harapanku lewat musik yang ku ciptakan atas dasar konstelasi rasa.

 Aku hanyalah mahasiswa jurusan musik yang memutuskan untuk menikmati hidup menjadi musisi jalanan. Acuhkan paradigma orang- orang sana yang menganggap semua musisi jalanan hanyalah peminta- minta. Dan aku mengapresiasikan musik tanpa imbalan. Musik adalah hidupku, bukan penghidupanku.
Musik tidak lahir sejalan dengan kehidupan manusia. Musik lahir dari alam dan direspon oleh manusia itu sendiri. ia dijadikan sebagai tembang indah untuk menemani perjalanan sekaligus menjadi petunjuk terhadap kejujuran dari apa yang ia rasakan. Lalu tentang kejujuran adalah sebuah isyarat yang dipintal benang-benang keindahan yang dibahasakan oleh nada-nada bersama waktu. 

Di situlah kita menengadah dan melihat bahwa musik adalah sebuah perjalanan sejarah jiwa untuk menggugat segala bentuk kebodohan dan kebohongan dalam lakon cinta kehidupan. Alamlah yang menjadi lakon kehidupan manusia yang satu persatu mencoba menafsir kepercayaan, cita-cita, harapan, mimpi, cinta, tujuan hidup, baik dan buruknya sebuah petunjukan fana dikehidupan yang semakin renta ini. Dan panggungnya dihiasi tawa, tangis, susah, senang, derita, bahagia. Semua terkonstelasi  mengalir bersama musik sesuai naskah alam yang tersadur dalam bingkai kehidupan.[]

Bijak Dalam Cawanku. Pemuda Negeriku






Alam terkembang menjadi guru, merupakan suatu adagium pemuda maju.
Tenggelam dalam lautan pengetahuan dan hidup .
Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada dunia.
bersenandung dengan perkataan-perkataan bijak dan memenuhi cawanku.
Keterpurukan dan kelemahan, bukan selayaknya menjadikan kita lemah dan tak berdaya.
Bukan menjadi spectrum tak terbatas di dalam sebuah kontinum
                       
Kau tau, pemudalah generasi penerus yang akan menahkodai perjalanan panjang bangsa ini.
Dan kaulah ikon perubahan bangsa  kebanggaan berjiwa nasionalisme sejati. 
Lihatlah…..  Mereka rakyat jelata yang berhutang pada realita hidup.
Hidup sempit terhimpit dalam rel besi entah tak berujung
Hingga akhirnya kematian menghantui diujung kerongkongan .

Hai pemuda! Bagi mereka yang ditahta hanya balada lelucon yang nampak
Itu semua mencekik leher si rakyat jelata hingga menemukan ajalnya.
Menemui  kereta kehidupan senja kelabu dan tak tau kapan berakhir.

Yang mereka butuhkan adalah Reaktualisasi Semangat sumpah pemuda.
Jika ditarik dengan garis linier, kau akan menemukan jawaban hai kawan
Bahwa  peran kedepan pemuda akan selalu dinanti.
Kaum muda adalah pancasila

Harus kau paham . Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda.
Di tengah kemerosotan moral pemimpin sekarang,
Pemuda-lah benteng terakhir penyelamatan bangsa kawan!





O … pemuda harapan bangsa!
Kami merindukan pemuda masa kini yang memiliki kualitas kepemudaan ,
Seperti mereka yang dulu. Masih adakah pemuda seperti itu di zaman sekarang?
Hai pemuda sang dirgantara!
Dahulu mereka menentang penjajah dengan ideologi dan senjata.
Dan sekarang?

Pemuda berjibaku menentang ketidak adilan, korupsi,
dan kerusakan akhlak, dengan pengetahuan dan ilmu .
Katakan dengan lantang hai pemuda pada sang perusak tahta,
pengeruk harta negri nan kaya.
Jika itu adalah kehendak raja. bapak dari negeri ini.
maka aku lebih baik mencuri, memohon, agar dapat menyelamatkan rakyatku..
Dibandingkan dengan hal yang kalian sebut kehormatan tahta negara.

Rabu, 20 Maret 2013

PROLOG NOVEL "DALAM ISTIKHARAH KU MENEMUKANMU"


Pagi itu, ketika ku membuka mata, aku berada di sebuah rumah yang berdindingkan kertas, pintu geser, lampion serta atap melengkung .  Diruang sana tulisan kaligrafi kanji dan hiragana terukir indah terlihat rumit terpajang disudut ruangan. Ketika jendela tersingkap ,rangkaian bunga lavender membentang luas memancarkan keanggunannya, disanding dengan gunung Fujiyama menjulang tinggi dengan puncak salju abadinya. Gunung yang terlihat jelas  kecantikannya memikat hati ,jika cuaca cerah dinegri matahari terbit.
Ohayoo.. Kata itu keluar lembut penuh mesra yang tak pernah alpa diucapkan setiap paginya, diiringi senyum  tulus penuh kasih sayang mengambang terpancar darinya. Kecup kening mesra selalu tercurah saat ku membuka mata.
 Hontou ni!!!!  Ini bukan mimpi. Ini nyata????
Dream book ku di jawab oleh sang maha kasih, watashi wa shiawase desu Allah. Gochiisooshama deshita penuh syukur.

Hakone izu . Ya, aku berada di  Hakone izu, bersama sandaran hatiku, pemilik hatiku,sosok pahlawan bagi hidupku, imam yang akan membawaku kesurga kelak, sosok suami shaleh pendorong mimpi - mimpiku. Kami menikmati tempat paling dekat untuk merasakan suasana pegunungan berapi yang tak aktif lagi. Menikmati sumber air panas, dan menatap indah lima danau fuji  di sepanjnag dinding barat daya kaldera hakone.  Sebuah danau kawah ashinoko . Sering awan kabut menyelimuti  gunung hingga puncak salju abadi yang hanya terlihat. Danau ashi terlihat replica kapal bajak laut untuk menyebrangi danau air beningnya yang tak pernah beku walau suhu udaranya mencapai puluhan derajat. Disana pula berjejer penginapan bak kereta api disekitar danau, untuk menyaksikan pemandangan udara trem pun tersedia. Benar- benar destinasi wisata yang indah di negri sakura.
Kali ini musim semi tiba, waktu mekarnya pohon sakura. Bunga khas jepang yang terlihat cantik dengan merah mudanya. Rangkulan tanganku dan suamiku tak pernah lepas, seakan tak ingin dipisahkan meski beberapa mili pun, cinta ruh yang mengalir lembut, menyenangkan,bersinar jernih & ceria, rasanya tak ingin berakhir,  ingin tetap terus disampingnya, tak kan pernah bisa aku sendiri,meraih mimpi tanpa cinta lelaki dalam rangkulanku ini, tingkah manjaku sesekali membuatnya tersenyum memandangiku, aku duduk dipangkuannya, dia dekap aku dengan ketulusan. Kadang aku malu terhadap dirinya, rasa tak pantas untuk dipilih olehnya. Lelaki ini sungguh multitalenta, kokoh tegar , dan bijak terpancar dari dirinya.

PROLOG NOVEL "JIKA ALLAH BERKEHENDAK"


Berulang kali, kuhela nafas, diikuti degup jiwa yang mendekap kesyahduan senja. Ya, senja Alexandria akan selalu indah. Matahari terbenan sangat cantik mewarnai ufuk langit dengan jingga keemasan. Sejauh mata memandang, terlihat laut mediterania yang menghampar dihadapan.  Sayup – sayup terdengar obrolan orang Mesir yang ekspresif. Aku akan mengenang ini sebuah déjà vu indah yang akan berulang dalam hidup. Dulu sekali, aku memimpikan hal ini: menatap sunset Alexandria yang menawan mata, ditemani bidadari penyejuk jiwa. Dan semua mimpi dulu kutuliskan di dalam dream book milikku, kini jadi nyata semua. Semuanya jadi lebih indah daripada yang kukira.
Ditengah debur dan gulungan ombak mesra laut mediterania, aku menatap wanita disampingku, yang sedari tadi bersandar manja dibahuku. Ku tatap wajahnya yang ayu. Ah kedua bola matanya itu, memikat.berkulit putih bak mutiara. Hidung mancungnya. Bibir manisnya yang menyunggingkan senyuman untukku. Ujung jilbab besarnya sesekali menari mengikuti irama angin.
Tatapan mata kami bertemu. Ah, istriku ini jadi wanita terindah yang menghiasi hidupku. Tanyakanlah kepada angin saat ia berhembus, biar ia bawa cintaku tinggi- tinggi kelangit dunia jauh keangkasa, kesidratal muntaha, agar para penduduk langit cemburu bahwa dua insan yang dipertemukan  dengan kecintaan penuh kepada Nya. Pastilah mereka memohon – mohon kepada Allah agar diberikan hal serupa, namun aku tak tau lagi jawaban Allah untuk mereka.
Kuhela nafasku, terhirup wangi menyejukkan bidadariku di sampingku ini. Berulang kali kugumamkan syukur. Oh Tuhan, anugrah ini begitu indah. Inilah hadiah kesabaran yang terlaku.
Ku gengam tangannya, teringat pula saat tangan kami bersentuhan pertama kalinya, setelah ikrar sacral ijab qabul, yang menyatukan hidupku dan hidupnya menjadi satu kehidupan yang berjalin.

kau katakan semakin indah memakai merah,^_^

kau katakan semakin indah memakai merah,^_^

Blogger templates

assalamu'alaikum,,,,,,kimitachi. ahlanwasahlan,^_^ in my blog "pena cintaku"

Pages

Pages - Menu

About Me Moena Banafsaj

Search Me