Tarian langit mengajarkanku tentang alunan musik kehidupan, terpadu
dalam buaian mimpi dan angan- angan, lekak-lekuk tarian bermetamorfosa menjadi
lingkar hidup yang mengupas problematika . Susah, senang, sedih, gembira. Semua
terbungkus menjadi satu dalam koreografi yang diciptakan Tuhan.
Takdir, itu takdirmu dan ini
takdirku.
Semua mempunyai
takdir masing – masing.
Tak guna melengkingkan rintihan tarian masa kelam. Karena sang
pencipta menyiapkan tarian indah untuk didendangkan dimasa mendatang.
Khayalku , mimpiku , cita-citaku, harapanku. Semua terpadu dalam
konstelasiku. Atas izin Tuhan semua dalam genggamku. Atas titahNya acuhkan paradigma.
Sekalipun dalam roda konspirasi dunia.
Aku hanya seorang anak jalanan yang mempunyai impian, takdirku menembus arus
deras dan kejamnya Ibukota. Ya, inilah takdirku . Seolah menjadi benalu yang
ditengah- tengah deretan pohon-pohon
jati yang kokoh dengan terjangan angin yang kencang. Sebagian orang menganggap rendah para musisi jalanan, karena
hanya bisa mengais uang dari hasil lantunan lagu yang didendangkan. Paradigma
pengamen yang hanya bisa melantunkan lagu tanpa mengerti seni kalbu dalam musik.
Dan aku hanyalah orang yang menjunjung tinggi kreatifitas seni tanpa harus ada
timbal balik. Masa bodoh dengan ocehan manusia- manusia itu, bagiku musik
adalah hidupku. Bukan penghidupanku.
Dan disinilah aku bermula. Menjadi musisi jalanan yang memberikan
warna musik kehidupan.
***
Aku bernama Azka berumur 12 tahun. Sejak kecil aku hanya tinggal
bersama kakak laki-lakiku. kakakku hanyalah seorang pekerja serabutan yang tak
jelas. Aku dan kakakku mempunyai impian yang sama. Yakni dengan lincah memainkan
senar biola. Alat musik itu penuh
keanggunan dan wibawa jika digesekkan. Dawai dawai alunan indah terpatri
menjadi alunan syahdu yang menggetarkan jiwa. Instrumennya terpadu dalam
gesekan senar indah yang diciptakan. Dawai biola mendadak hidup, mengalun
jernih, sesekali menghentak rancak. Violinis yang memainkannya mengolah nada
demi nada, menyuguhkan permainan apik dan harmonis.
Ah.. Sungguh indah tak bisa
terungkapkan bukan?
Tepat dimana gubuk kecil kami berdiri. Disisi kanan seberang jalan.
Terdapat sebuah sekolah musik yang berdiri megah bak singgasana para seniman
kaya. Setiap hari mobil- mobil mewah terlihat singgah disana. Sudah pasti jelas
anak- anak orang kayalah yang belajar
musik disana. Aku iri melihatnya. Hanya bisa menatap mereka yang turun
dari mobil, berpakaian rapi dan bagus serta membawa alat musik yang mereka
geluti. Sedangkan aku?
Aku hanyalah musisi jalanan yang mengekspresikan lagu tanpa meminta
imbalan. Hobiku melantunkan lagu dibis-bis kota dan kereta sebagai keceriaan hidup.
Andai aku bisa seperti mereka. Andai mereka tau. Semoga Tuhan mendengar
pintaku. Semoga . Semoga .Semoga.
***
Minggu hari yang mendung.
Tepat jam satu siang aku bergegas lari keluar rumah, membawa buku kecil dan
balpoint yang begelantungan dileherku. Pagi ini jadwal anak- anak orang kaya
itu belajar biola. Aku yang mempunyai impian bisa menggesekkan dengan lincah
dawai dawai itu, hanya bisa mengintip disela- sela jendela kaca saat anak- anak
itu belajar memainkannya. Sesekali penjelasan sang guru musik dipapan tulis aku
salin dikertas kecil yang ada ditanganku. Dan kemudian dirumah , aku belajar
bersama kakakku tentang musik dari majalah- majalah dan Koran yang kami
kumpulkan. Mungkin aku tak mengerti hanya dengan menyalin tanpa
mengaplikasikan. Tapi setidaknya aku bisa mendengar jelas alunan dawai- dawai
merasuk hati hingga menggebu – gebu membuncahkan semangatku untuk dapat
memainkan alat musik yang mempunyai kekuatan magic ini. Setiap minggunya aku
selalu mengintip pelajaran mereka. Tak pernah absen kulakukan.
Ketika itu aku terbawa
alunan syahdunya instrumen getaran dawai, hingga tak menyadari bahwa Tuhan
telah menurunkan rahmatNya kebumi. Bajuku basah kuyup, derasnya hujan bersatu
padu dengan tetesan air di sela- sela dedaunan. Terlihat daun tua berjatuhan
rontok mengikuti takdir. Ranting pohon yang bergoyang ditiup derasnya angin.
Kicauan burung sesekali terdengar bak pertanda mereka kedinginan oleh sayap-
sayap basah. Lambaian rumput pun ikut berdendang seakan menikmati irama musik
alam dipadu dengan instrument biola yang
terdengar didalam singgasana megah itu.
Hari sudah senja, matahari tak nampak lagi. Bahkan, sore itu rinai
gerimis sedikit membasahi langit. senja itu, kesyahduan
menyergap. Tiba- tiba aku tersentak kaget. Salah seorang guru musik
menghampiriku. Nampaknya gerak- gerikku selama ini telah disadari olehnya.
“Kamu menyukai musik nak? Hampir setiap kali saya mengajar, kamu
selalu hadir dibalik kaca mendengarkan penjelasanku. Bahkan antusiasmu
meluap-luap memperhatikanku melebihi anak yang sedang aku ajarkan. Apakah kamu
tertarik dengan biola?” Tanya ibu guru itu.
Aku hanya bisa menjawab. “Ya aku cinta musik. Aku cinta biola. Dan
aku punya mimpi besar.”
Ibu guru
itu tersenyum mendengar jawabanku. Dan
berkata, “ datanglah kesekolah musik ini sesukamu nak, ikutlah belajar bersama
teman- teman yang lain, tak usah takut akan bayaran. Karena ini terbuka
untukmu. Dan ambilah biola ini untukmu. Berjuanglah”.
Sungguh ini sebuah deja’vu kehidupan. Aku tak pernah membayangkan
bisa memiliki biola seindah ini. Badan biola terdiri atas dua papan suara yang melengkung
yang disatukan oleh kayu yang disebut iga biola yang dilem, Iga biola biasa terdiri dari bagian atas, keempat sudut, bagian bawah, dan
garis tipis, Dipandang baik dari depan maupun dari
belakang, badan biola menyerupai bentuk jam pasir. Leher biola biasanya terbuat dari kayu mapel yang setipe dengan bagian
belakang dan samping badan biola. Jembatan biola dipahat dengan hati-hati dari
kayu mapel dan memiliki beberapa kegunaan, lengkungan atasnya menahan senar pada
ketinggian tertentu dari papan jari dalam bentuk melengkung supaya dapat
digesek sendiri-sendiri (atau bersamaan) dan menghantarkan getaran suara dari
senar ke badan biola. Bagian Ekor biola adalah tempat menambatkan
ujung bawah senar yang diselipkan ke dalam masing-masing dari empat lubangnya. Busur biola terdiri dari sebatang kayu dan berhelai-helai rambut kuda yang
dipasang dari satu ujung tongkat ke ujung yang lain. Senar dibuat dari usus domba, direntangkan, dikeringkan, lalu dipelintir. Sungguh terlihat rumit meciptakannya
dan fantastic. Ketika dimainkan dengan standar dan kualitas yang benar,
musik akan tersaji sebagai hidangan yang adiluhung sekaligus menyegarkan.
Inilah awal perjuanganku menjemput mimpi-mimpiku. Yang bukan lagi
hanya harapan kosong.
Berlarian menembus angin dengan perasaan haru biru, senang,
bahagia, semua rasa terkonstelasi sendiri dalam rinai hidupku saat ini. Bajuku
yang basah kuyup, tak aku hiraukan, rambutku yang ikal menjadi lepek tak
berbentuk. Celana pendekku yang sobek dan tak memakai alas kaki tak ku
pedulikan. Aku bak seorang gembel yang kelaparan berminggu –minngu, yang seolah
baru saja menemukan makanan terlezat yang pernah dilahap seumur hidupnya. Yang
ku tau saat ini adalah aku bahagia, aku memiliki biola terindah, dan aku akan
menunjukkan biola ini pada kakakku dan bermain bersamanya.
Amboi…..Impian kami sekarang
nyata kawan!
Tiba- tiba saja, didepan gubuk kecilku ramai, bendera kuning kecil
itu berkibar- kibar disela pohon jambu di depan gubuk. Tubuhku gemetar, apa
yang terjadi, ada apa dengan rumahku yang ramai.
Aku berlari secepat mungkin menerobos orang- orang yang
bergerombol. Dan aku menemukan kakakku terbujur kaku, tak berdaya. Kakakku
telah dipanggil sang pencipta menemui ayah ibuku.
Menurut penuturan teman kerjanya, kakakku tertimpa bangunan yang
roboh. Aku tersungkur dihadapan
pembaringan jasad kakakku.
“Kakak, harusnya kau melihat ini kak. Aku membawa biola yang selama
ini kita impikan. Kakak berjanji akan terus belajar musik bersamaku. Ayo kak
bangun, bangun kak. Lihatlah. Ada biola ditanganku”. Aku menangis sejadi-
jadinya tak bisa membendung air mata.
***
Hari- hari ku jalani sendiri. Setiap harinya aku giat berlatih
menggesekan biola hingga bersatu padu menjadi irama klasik unik yang indah.
Disekolah musik itu aku dibimbing hingga dengan lihai dan lincah menggesekkan
senar biola.
Sampai dimana aku beranjak dewasa, karena keahlianku dengan piawai
menggesekkan biola, aku mendapatkan beasiswa di Prodi SENDRATASIK(Seni Drama
Tari dan Musik).
Jadi teringat perkataan temanku yang menceritakan isi dari novel Pak
Cik Andrea Hirata. “Seumur hidup baru kali ini aku menjamah biola. instrumen
ini begitu artistik. gelap,berwibawa. seperti ada nyawa dalam rongganya.
seperti ada sejarah yang tercatat dalam serat-seratnya. alat ini hanya berhak
dipegang orang berjiwa musik berjiwa tinggi seni”
Biola yang ku pegang ini, memiliki sejarah perjalanan hidupku.
Mimpiku, cita- citaku, harapanku, dan sebagai bukti cintaku pada kakakku
bersatu padu menjadi konstelasi hidupku.
Kalimat sakralku dan kakakku menjadikan langit ketujuh adalah
gambaran imajiner untuk tepat yang paling tinggi diujung yang paling tinggi,
lapisan langit, gugusan planet, narasi bintang, semua bisa jadi terkonstelasi
dalam kepal kami. Begitu pula mimpi- mimpi kami. Dengan harapan, cinta, dan
cita- cita besar kami. Semua akan terkonstelasi menjadi gumpalan berlian yang
tak bisa ditukarkan dengan apapun.
***
Musik bagiku suara yang tercipta karena adanya satu atau sederet
bauran frekuensi yang berbeda, yang pada umumnya menumbuh-kembangkan harmoni.
Coba merasakan musik yang dihasilkan alam. Seperti suara gesekan dedaunan
ditiup angin, gemericik air mengalir, suara ombak, suara tiupan angin kencang,
suara gemuruh hujan dan halilintar, dan lain sebagainya. Pernahkan kau
merasakan kicauan burung dan suara binatang lainnya menjadi nada-nada indah
dalam perjalanan alam yang semakin renta ini. Kalau kita dengarkan secara
seksama suara-suara itu bila terjalin akan menjadi sebuah harmoni indah sebagai
kidung alam untuk didengarkan, ditelaah, dihayati, dimengerti, lalu
disenandungkan anak manusia untuk menghiasi kehidupan.
Aku tak perlu panggung mewah gemerlap, dan buasana seharga jutaan
rupiah, untuk mengaspresiasikan kepiawaian ku dalam bermain musik. Membagikan
keceriaan hidupku dengan dawai- dawaiku. Kalian cukup mencariku di kereta, bis
– bis dan angkutan umum lainnya. Ku curahkan semua mimpi, cita , cinta dan
harapanku lewat musik yang ku ciptakan atas dasar konstelasi rasa.
Aku hanyalah mahasiswa
jurusan musik yang memutuskan untuk menikmati hidup menjadi musisi jalanan.
Acuhkan paradigma orang- orang sana yang menganggap semua musisi jalanan
hanyalah peminta- minta. Dan aku mengapresiasikan musik tanpa imbalan. Musik
adalah hidupku, bukan penghidupanku.
Musik tidak lahir sejalan dengan kehidupan manusia. Musik lahir
dari alam dan direspon oleh manusia itu sendiri. ia dijadikan sebagai tembang
indah untuk menemani perjalanan sekaligus menjadi petunjuk terhadap kejujuran
dari apa yang ia rasakan. Lalu tentang kejujuran adalah sebuah isyarat yang
dipintal benang-benang keindahan yang dibahasakan oleh nada-nada bersama waktu.
Di situlah kita menengadah dan melihat bahwa musik adalah sebuah
perjalanan sejarah jiwa untuk menggugat segala bentuk kebodohan dan kebohongan
dalam lakon cinta kehidupan. Alamlah yang menjadi lakon kehidupan manusia yang
satu persatu mencoba menafsir kepercayaan, cita-cita, harapan, mimpi, cinta,
tujuan hidup, baik dan buruknya sebuah petunjukan fana dikehidupan yang semakin
renta ini. Dan panggungnya dihiasi tawa, tangis, susah, senang, derita,
bahagia. Semua terkonstelasi mengalir bersama
musik sesuai naskah alam yang tersadur dalam bingkai kehidupan.[]







